Diklat Juri BnR Angkatan IV, Mencetak Penerus Panji BnR

Standar

naskah & foto : prayogi waluyo

Peserta diklat serius mendengarkan dan mencatat materi yang diberikan pemateri

Peserta diklat serius mendengarkan dan mencatat materi yang diberikan pemateri


Diklat Juri BnR Angkatan IV 2013 digelar di Universitas Malayahati, Bandar Lampung, Sumatera berlangsung mulai tanggal 7 sampai 10 Februari. Acara dibuka oleh Ketua BnR Sumatera M Kadafi SH. MH dan jajaran petinggi Yayasan BnR Pusat Kamis (07/02) sore. Ada 27 peserta dari wilayah Sumatera, Kalimantan dan Jabodetabek.

Ketua BnR Sumatera, M Kadafi SH.MH dalam sambutannya ia berharap kepada peserta, agar diklat ini dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menimbah ilmu di dunia perburungan. Pasalnya dunia hobi burung di negeri ini terus berkembang secara pesat dari tahun ke tahun.

Seorang juri akan ketinggalan jika tidak mengevaluasi kemampuannya serta tidak mengikuti perkembangan burung – burung yang sedang popular. “ Sebagai juri muda jadikan diklat ini wadah untuk mengembangkan karir sebagai juri,” ujarnya.

Masih kata Kadafi supaya seorang juri tidak ketinggalan, ia harus bisa mengikuti perkembangan burung – burung yang popular dari daerah lain. Bukan hanya piawai menilai burung yang popular di daerahnya sendiri. Sebab ketika ditugaskan di gelaran nasional maka juri tersebut harus mampu menilai burung yang sedang popular secara nasional.

Dan jadilah juri BnR yang memiliki independensi tinggi dengan mengutamakan hati nurani. Bukan harus takut terhadap tekanan kicaumania yang minta burung jagoannya dimenangkan. Berprofesi sebagai juri itu sebuah amanah. Meski demikian, Kadafi mengaku cukup senang melihat semangat tulus dari peserta diklat yang beragam pengalaman. Bahkan ada peserta yang belum memiliki pengalaman sama sekali sebagai juri.

Sementara Kamiludin selaku jajaran petinggi Yayasan BnR Pusat menyampaikan tujuan diadakan diklat lantaran melihat perkembangan frekuensi lomba burung berkicau cukup tinggi yang digelar dipelbagai daerah di Indonesia. Sehingga banyak permintaan kicaumania, even organiser baik dari independen maupun sponsor produk yang membidik segmen komunitas burung berkicau. “ Mereka ingin menjalin kerjasama menggelar lomba dengan menggunakan juri BnR,” terangnya.

Masih kata Kamiludin, juga untuk kemandirian cabang BnR seperti BnR Sumatera yang ingin memiliki juri handal, teladan sehingga bisa jadi panutan kicaumania. Dengan memiliki juri profesional maka akan meringankan beban biaya operasional cabang dan even organizer lain yang memakai jasa juri BnR. “ Selain itu, menciptakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya dan membantu program pemerintah mengurangi pengangguran,” tegas Bang Kam.

Bang Kam juga menandaskan bahwa visi misi divisi juri Yayasan BnR adalah juri yang masih memiliki hati nurani. Serta menjunjung tinggi etika penjurian yang baik dan benar tidak ada pilih kasih. Juri BnR harus profesional, loyal, disiplin, jujur dan bertanggung jawab. Juri BnR harus lebih mengutamakan peserta di atas kepentingan pribadi, golongan.

“ Juri BnR dilarang keras menerima suap atau pemberian hadiah dalam bentuk apapun dari kicaumania. Hal itu bertujuan supaya mental dan moral juri tidak terganggu. Dengan demikian akan tercetak juri yang bersih,” tegas Bang Kam seraya menambahkan juri BnR agar tidak mudah terprovokasi dengan siapapun.

Pasalnya, lanjut Bang Kam, keputusan juri itu hak mutlak tidak bisa diganggu gugat lagi dengan alasan apapun. Semua harus hormat dan patuh dengan keputusan juri. “ Paling penting lagi, juri BnR harus bisa bekerja dibawah tekanan dan dapat menjaga nama baik korp juri maupun Yayasan BnR serta even organiser yang kala itu sedang menjalin kerjasama dengan BnR,” jelasnya.

Sedangkan H. Dodot dan Engkus IP juri BnR yang menjadi pemateri diklat menjelaskan, bahwa peserta angkatan IV ini kualitas kemampuan pemahaman dan menilai burung jauh lebih bagus katimbang angkatan I – III. “ Ada 8 peserta yang masuk grade A dan 15 peserta grade B serta 4 masuk katagori grade C. Kalau yang grade C mereka belum berpengalaman sebagai juri,” kata Engkus seraya menegaskan sebagian besar peserta diklat sudah beberapa tahun menjadi juri independen di daerahnya masing-masing.

Meski demikian, lanjut H Dodot dan Engkus mereka masih harus adaptasi dengan sistem dan tata cara menjadi juri BnR. Termasuk etika menilai burung. Mulai cara melangkah dan menancapkan bendera penilaian hingga bendera koncer. “ Makanya sebelum kami terjunkan ke lomba, setiap peserta harus menjalani simulasi laiknya sebagai juri yang bertugas di sebuah even,” terang Engkus.

Engkus juga menjelaskan, peserta diklat sebelum mendapat materi, mereka harus lulus tes kesehatan meliputi berat badan, tekanan darah kesehatan tubuh bagian dalam hingga pengelihatan yang dilakukan tim dokter yang dipimpin dr. Dwi Robbrardy Eksa dari RS Pertamina Bintang Amin, Lampung“ Apakah peserta tersebut buta warna atau tidak juga pengelihatannya apakah masih normal,” jelas Engkus.

Selain itu, peserta mendapat pembekalan pemahaman psikologi kepribadian dari dosen Universitas Malayahati. Termasuk penguatan mental dan kebersihan jiwa supaya juri BnR benar-benar bisa menjalankan tugasnya dengan mengutamakan hati nurani. Materi ini disajikan oleh Uztad dari Universitas Malayahati. Para peserta pun setiap pagi juga melakukan olah raga santai yang dipandu Sofyan Juandi sebagai instrukturnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s