Kemenangan Tanpa Suap

Standar

teks & foto : prayogi waluyo

Menang dalam sebuah perlombaan merupakan kebangaan sangat luar biasa. Apapun bentuk perlombaan itu. Saking bangganya, pelbagai cara untuk meluapkan kegembiraan dilakukan, sehingga tanpa disadari bisa memunculkan interprestasi berbeda bagi publik yang mengetahui. Ironisnya bila rumor yang dihembuskan adalah sebuah kemenangan diraih yang dilandasi tanpa jiwa sportif.

Fenomena ini bisa ditemui di pelbagai kegiatan perlombaan dan dimanapun diselenggarakan. Di lomba burung berkicau pun kerap bahkan cukup santer rumor yang menghembus bahwa kemenangan di setiap gelaran begitu gampang diraih dengan cara tidak sportif. Asal punya uang, asal kenal baik dengan juri dan panitia. Apalagi punya burung berkualitas bagus, maka peluang cukup besar bisa meraih sebagai juara di peringkat atas.

Benarkah dengan modal itu, kemenangan bisa diraih secara gampang? Apakah semua kemenangan khususnya di peringkat atas identik tidak sportif? Jelas masih cukup banyak pemain burung yang berjiwa sportif. Bangga bila meraih kemenangan melalui persaingan sengit yang disaksikan para pemain lainnya dari pelbagai sudut arena lomba.

Namun mengapa ‘virus’ asal kenal juri dan panitia serta asal mau memberi uang kepada juri maupun panitia supaya burung jagoannya dimenangkan menjadi ‘virus’ familiar yang harus disebar-luaskan di kalangan pelomba. Tidakkah virus itu harus ditangkal dengan sebuah pembuktian.

H. Muanam Ikhrom satu di antara pelomba yang telah mematahkan cibiran yang bersifat provokatif yang kerap menjadi batu sandungan terhadap mental pelomba khususnya pemula untuk menorehkan prestasi melalui burung jagoannya. “ Sebagai pelomba pemula, saya sudah membuktikan sendiri kalau menang sebagai juara I tidak harus kenal terlebih dahulu kepada juri maupun panitia lalu memberi uang kepada mereka supaya burungnya dimenangkan,” tuturnya polos.

Pembuktian H. Muanam Ikhrom yang tinggal di Cikarang, Bekasi, lantaran ada cibiran yang dilontarkan pada dirinya, bahwa meski memiliki burung berkualitas lomba, tidak bakal menang jika tidak kenal juri maupun panitia lalu memberi uang kepada mereka. Apalagi lomba gelaran BnR. Sontak, kabar provokatif itu membuat ia gusar. Pasalnya ia melombakan burung jagoannya masih setaraf latber maupun latpres. Belum pada tingkat lomba nasional apalagi yang digelar BnR.

Sebagai orang muslim ia pun selalu menyempatkan berdoa saat melaksanakan ibadah sholat. Semoga para juri melaksanakan kinerjanya dengan jujur. Menilai burung yang kerja bagus sesuai kreteria penjurian dan tidak terpengaruh diiming-iming diberi uang bila mau memenangkan burung. Dengan tekat dan percaya diri akhirnya memutuskan untuk tetap ikut lomba gelaran BnR kemasan Pandawa 5 Enterprise, Minggu, (21/10) pekan silam.

Alhasil, Tebar Pesona, kacer yang dijagokan berhasil menyabet predikat juara I di kelas Jatijajar. Luapan sebagai rasa kegembiraan yang dilakukan H. Muanam hingga tidak terkontrol. “ Ini kali pertama saya ikut lomba besar dan burung yang saya jagokan menang juara I. Apalagi di lomba BnR yang kata orang sulit untuk menang jika tidak kenal juri maupun panitia lalu memberi uang kepada mereka,” ungkapnya.

Masih kata H. Muanam, tanpa harus kenal kepada juri maupun panitia serta tidak memberi uang kepada meraka, burung jagoanya bisa juara I. “ Artinya omongan orang yang selama ini yang saya dengar menjelekan tentang lomba di BnR ternyata bersifat provokatif saja,” ujarnya yang secara rill membuktikan kalau lomba di BnR yang dinilai adalah burung bukan mempertimbangkan pemilik maupun burung tersebut kerap meraih juara.

Dengan perasaan masih diselimuti gembira, H. Muanam yang juga penasehat Cabang Bola Voly di KONI Kabupaten Bekasi, berharap kinerja dan mental juri BnR bisa dipertahankan. Tidak terpengaruh dengan iming-iming berupa uang dari pelomba yang ingin burung jagoannya bisa menyabet juara di posisi atas.

Sementara Bang Boy, pendiri Yayasan BnR menjelaskan secara tegas, bahwa juri BnR pantang untuk menerima suap dari pelomba yang ingin burung jagoannya supaya menang. “ Saya akan mengambil tindakan tegas apabila diketahui ada juri BnR yang menerima suap dari pelomba. Sanksinya berupa juri tersebut harus hengkang dari korps juri BnR.

Namun fenomena adanya suap tidak bisa dipungkiri dari kegiatan perlombaan apapun jenisnya. Hanya yang bermental tidak sportif inilah selalu mengambil jalan pintas dalam meraih ambisinya sebagai sang juara. Apakah kejuaran yang diraih secara tidak sportif dengan cara suap disebut sebagai sang jawara sejati ? Masih cukup banyak yang ingin meraih kemenangan melalui persaingan sengit dan sportif yang disaksikan ratusan mata di luar sudut arena lomba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s