Kacer, Kecintaan Kicaumania Tak Pernah Lekang

Standar

oleh: prayogi waluyo

KACER. Burung yang populer dengan sebutan kucica atau haur, merupakan jenis unggas yang berkembang biak di Nusantara namun sekarang populasi di habitatnya semakin berkurang.

Tampilannya penuh pesona. Burung tipe fighter ini merupakan salah satu bintang lomba. Bermodal pita suara yang bagus ia pintar menirukan suara burung lain, dan dengan kecerdasan seperti itulah para kicaumania menilainya sebagai koleksi yang membanggakan.

Oleh sebab itu banyak orang rela menyusuri lorong-lorong pasar hanya untuk menemukan burung favorit tersebut. Walaupun orientasi pembeli semakin beragam, baik yang menyiapkannya sebagai burung kontes, untuk diperjual-belikan atau sekadar hiburan di rumah, namun kecintaan publik pada kacer tak pernah lekang.

Kabar yang menggembirakan kini semakin banyak penggemar Kacer yang mengembangkan langkahnya menjadi penangkar, sebuah keputusan yang patut diapresiasi agar kacer tetap lestari.

Keberadaan burung Kacer atau Magpie Robin yang populer di Indonesia sekarang ada dua jenis, yakni kacer hitam yang sering disebut kacer jawa dan kacer poci atau kacer sekoci yang sering disebut kacer sumatra. Burung ini memang masih berkerabat yakni sama-sama dalam genus Copsychus. Secara ilmiah burung kacer jawa disebut Copsychus sechellarum sedang kacer poci dinamai Copsychus saularis.

Perbedaan keduanya yang menyolok hanyalah pada warna bulu hitam dan putih. Pada kacer jawa berbulu hitam semua di bagian dada sampai dekat kloaka. Sedangkan kacer poci warna hitamnya hanya sampai dada dan ke bawah hingga kloaka berwarna putih. Sementara itu burung yang sangat mirip dengan kacer poci atau kacer sumatra adalah kacer madagaskar (Copsychus albospecularis).

Kacer merupakan burung penyanyi dengan wilayah tebaran yang begitu luas. Di antara tiga species tersebut kacer poci atau kacer Sumatra (Oriental Magpie Robin) memiliki 9 subspecies yaitu, (1) saularis berkembang di Thailand, India, Nepal, Malaysia, Indonesia, (2) andamanensis, (Kep. Andaman), (3) musicus, (Peninsular, Malaysia, Thailand), (4) prosthopellus, (Hainan-China), (5) erimelas (India ke Indochina), (6) pluto (Sabah – Malaysia, Kalimantan – Indonesia), (7) ceylonensis (India, Srilanka), (8) adamsi (Sabah – Malaysia, Kalimantan – Indonesia) dan (9) mindanensis dengan wilayah tebaran Mindanao (Philipina).

Di Jawa, burung penyanyi dengan postur tubuh sepanjang 20-an cm ini menebar di beberapa kawasan, untuk kacer berbulu putih umumnya menempati kawasan Jawa Barat sedangkan kacer hitam di Jawa Timur sementara di Jawa Tengah dapat ditemukan kedua ras tersebut. Burung ini lebih menyukai area terbuka dan memiliki kebiasaan hidup di daerah taman, pedesaan, hutan sekunder, hutan terbuka maupun hutan bakau.

Sebagai burung penyanyi, kacer memiliki banyak penggemar. Selain warna bulunya yang hitam mengkilat daya pikat lainnya adalah kepandaiannya menirukan irama nyanyian burung jenis lain. Keunggulan lainnya, ia merupakan burung trengginas yang gairahnya cepat berkobar saat diketengahkan ke arena lomba.

Makanan utama burung ini adalah serangga namun kadang memangsa cacing atau buah-buahan, bahkan diantaranya ada yang demen mengkonsumsi madu. Ketika menjadi burung koleksi menu yang disajikan pada kacer lebih variatif. Kadang diberi jangkrik, ulat, kroto maupun belalang. Juga disuguhkan menu olahan pabrik berupa voer.
Musim kawin kacer berlangsung antara bulan Januari sampai Juni.

Sebagaimana kaum lelaki, kacer pejantan berusaha agar dirinya menarik perhatian betina dengan menyanyikan lagu-lagu merdu.
Setelah berhasil menaklukan lawan jenisnya kemudian melakukan perkawinan. Beberapa saat kemudian mereka membuat sarang berbentuk cawan dari rumput, daun maupun dahan kering juga akar-akaran.

Mereka bisa membuat sarang dimana saja, kadang di semak belukar, ranting pepohonan, rongga pohon tua bahkan di atap–atap rumah penduduk pun tidak masalah. Setelah semua persiapan sempurna, si betina akan mengerami telurnya yang berjumlah 3 sampai 5 butir.

Namun populasi kacer sekarang sudah semakin mengkhawatirkan dikarenakan perburuan terhadap burung pemakan serangga ini semakin liar dan tak terkendali. Untuk melindungi dari kepunahan, pemerintah Malaysia dan Singapura membatasi jumlah perburuan serta mewajibkan para pemburu burung memiliki ijin khusus. Lalu bagaimana dengan Indonesia dengan daerah tebaran kacer yang cukup luas? Hingga berita ini dilansir belum tampak tanda-tanda ke arah sana.

Kekhawatiran itu kiranya akan terus berlangsung bila melihat realita lapangan. Simak saja penuturan para pedagang burung di beberapa kota seperti di pasar burung Bratang, Kupang dan Pasar Turi Surabaya maupun Splendit Malang.

“Dari hari ke hari penggemar kacer semakin banyak tapi kebutuhan pasar tidak mendapat pasokan yang ajeg dari pedesaan.” Pasokan dari pedesaan yang dimaksud adalah burung –burung hasil perburuan liar.

Seharusnya tidak demikian apabila dilangsungkan program pendampingan terhadap masyarakat tepi hutan agar melakukan penangkaran sehingga potensi mereka berdaya. Hanya saja untuk membangun masyarakat tidak semudah dan secepat membalikkan tangan. Terlebih lagi, bangsa ini sudah terlalu lama terlena dengan kemakmuran alamnya sehingga lupa membangun manusianya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s