Ekspresi antara Emosi dan Suport

Standar

oleh : prayogi waluyo
birojatim

“Tiga sembilan .. Nah, 39 juri, lihat 39 …. suaranya tembus…. Ayo cepat nilai 39 …”
“Hu… suara burung sebagus itu kok nggak dinilai … 25 paling joss.. jangan tolah-toleh, 25…. 25….”
“Wah .. payah. Jangan nggerombol aja, kalau nilai berpencar gitu lho.. Lihat 40 …”

Teriakan-teriakan itu selalu yang mewarnai arena kontes. Semakin banyak burung prestasi yang ditampilkan semakin banyak orang yang mengiringi di sekitar lapangan sambil berteriak ria. Sampai-sampai suara burungnya tidak terdengar. Hanya gerak-geriknya yang terlihat bahwa si burung sedang berkicau.

Mengapa harus berteriak? Pertanyaan ini sekarang tengah menjadi topik hangat di kalangan organizer kontes. Beberapa diantaranya mulai mengarahkan pesertanya untuk tidak berteriak agar jalannya kontes berlangsung tertib.
Berteriak itu penting untuk mengarahkan juri agar memperhatikan burung kita, kalau tidak maka juri bisa beralih ke burung lainnya. Ini merupakan salah satu strategi pemenangan. Kalau tidak berteriak tapi yang lain melakukannya? Padahal burung kita kerjanya bagus, apa nggak kecewa? Ini sebuah jawaban yang kerap dilontarkan kicaumania ketika ditanya mengapa harus berteriak.
Uniknya, meski mereka saling berteriak, namun setelah lomba berlangsung dan telah diketahui siapa pemenangnya merekapun tertawa. “Kalah menang itu biasa tapi yang lebih puas jika bisa berteriak. Di luar kita tidak bisa berteriak seperti ini makanya saya ikut lomba itu ya karena bisa berteriak, rasanya fresh,” ungkap Hermanto HT kicaumania Surabaya yang kerap menyabet juara umum perseorangan. Kalau tidak boleh berteriak wah, … nggak asyik dong,” tutur kicumania Surabaya yang akrab dipanggil Pesek.
Sedangkan komentar kicaumania yang dihimpun wartawan ini mereka mengatakan sebenarnya lebih enak tanpa teriak. Karena bisa memantau suara burung yang berprestasi dengan jelas. Bisa juga berteriak bahkan emosi apabila burung jagoan kita, tampil maksimal kurang terpantau oleh juri. Perasaan jengkel pasti muncul seketika,” jelas Dimar mantan kicaumania yang cukup dikenal paling doyan berteriak.
Tapi ia tidak memungkiri kalau teriak di lomba bagian untuk mensuport agar juri lebih terkonsentrasi pada burung andalannya. Pengakuan tersebut diakui juga oleh Imron pemandu prestasi burung – burung milik duo Kiky & Harry piawai yang banyak mencetak burung juara.*prayogi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s