Berteriak Ria di Arena Kontes, “Halal” atau “Haram”

Standar

oleh: prayogi waluyo
birojatim

Banyak sisi menarik jika melihat kontes burung berkicau. Selain burung-burung prestasi bermental baja saling menampilkan suara emasnya juga para kicaumania saling berteriak ria. Sebuah fenomena unik yang mewarnai jagad perburungan di negeri ini.

Adalah baik maksud Tuhan mencipta. Burung-burung dihadirkan dengan beragam jenis, karakter untuk mengabdi pada manusia. Ada yang bertugas membasmi bibit penyakit , penebar benih, pelipur lara maupun pengukir prestasi. Untuk tipe terakhir itulah keberadaannya sekarang mendominasi jagad perburungan di tanah air.

Jika menyimak era 70-an, di awal kontes kicauan digelar, yang terdengar adalah suara-suara burung peserta. Suasananya begitu hening dan hanya kicau burung terdengar bersautan. Sementara para pemiliknya jejer wayang di sepanjang tepian arena.

Suasananya berlangsung tenang tanpa hiruk pikuk sehingga kita bisa menikmati jalannya lomba dengan enak. Para juri pun bisa memusatkan konsentrasinya secara penuh.
Jika ingin tahu bagaimana suasana lomba kicauan di masa lampau bisa dilihat pada lomba perkutut sekarang, suasananya nyaris sama dengan jaman dulu. Suasana seperti itu cukup berlangsung lama karena frekuensi lombanya tidak sepadat sekarang.
Suasananya benar-benar berubah pada medio tahun 90-an, ketika bermunculan organizer baru selain PBI yang menggelar berbagai lomba dengan hadiah menarik maka sejak itu para mania berlomba mengukir prestasi bersama burung kesayangannya. Apalagi sering berlangsung transferasi burung yang nilainya puluhan juta rupiah hinga ratusan juta, maka dunia kicauan semakin marak.
Dengan adanya fenomena itu tak mengherankan apabila orang-orang mulai berambisi untuk memenangkan burungnya agar dilirik pembeli. Agar menang tentu butuh nilai tinggi dari juri. Agar perhatian juri mengarah pada burung lalu pemilik atau kru berteriak-teriak. Secara psikologis, siapa yang kuat menahan teriakan untuk tidak memperhatikan?.
Akhir-akhir ini muncul aspirasi yang mengharap adanya pelanggaran untuk tidak berteriak agar jalannya kontes berlangsung jernih dan fair play. Namun sebagain pendapat menampik karena justru bisa berteriak itulah mereka tertarik untuk bermain burung. Berteriak sebagai suatu kebutuhan tampaknya sedang diuji ‘kehalalannya’ di arena lomba burung.*prayogi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s