Mario Blanco, Perupa Impressionis, Kini Dikenal Sebagai Penangkar Sukses Jalak Bali

Standar

Oleh : Gordon
Dimuat tabloid BnR Ed 43 (November 2009)

Putra sang Maestro Don Antonio Blanco, pelukis tenar di jagat ini tidak hanya piawai dengan melukis saja. Dibalik hobi melukis impressionis itu, pria berparas ganteng ini juga kondang sebagai penangkar burung Jalak Bali. Lebih dari 100 ekor burung Jalak Bali, telah menghiasi di sekitar museum seluas 2 hektar itu di kediamanya Campuan, Ubud Gianyar Bali
Bertandang di kediaman Mario Blanco’s Gallery, memiliki kesan dan kebanggaan tersendiri. Selain dapat menikmati lukisan karya seniman kaliber dunia. Kita juga disuguhkan berbagai aneka jenis burung langka yang sudah jinak dan berterbangan bebas. Di bawah rimbunan pohon dengan tonjolan taman yang tertata asri, membuat kita semakin betah untuk tinggal di situ. Apalagi, sang Maestro muda Mario Blanco sekeluarga dan para karyawannya juga menyambut hangat penuh persahabatan.
“Sabar, ulet dan tekun, itu merupakan sebuah kata kunci menuju sukses dalam melakukan aktifitas. Kedua, kalau ingin lebih sukses lagi menangkar Jalak Bali, harus mempersunting gadis asal Jembrana. Dimana, burung Jalak Bali kan habitatnya ada di daerah ujung Bali Barat, Jembrana,” ujar Mario Blanco bercanda sembari mengumbar senyum mengawali perbincangannya.

Hati Mario terketuk ketika mendengar dan melihat nasib burung Jalak Bali terkoyak-koyak akibat pemburuan liar. Nasib burung yang menjadi maskot provinsi Bali ini, memang tak seindah warna bulu yang menyelimuti di sekujur tubuhnya. Bahkan, sempat menjadi cerita tragis yang tersebar ke seluruh penjuru dunia karena hidupnya terancam dari kepunahan. Oleh karenanya, Mario tergerak hatinya perduli terhadap kelestarian dan bertindak melakukan penyelamatan.

“Kecintaan akan hewan kesayangan, muncul sejak masih di bangku sekolah Taman Kanak-Kanak. Papa dan Mama juga seorang pencinta dan pelestari binatang serta lingkungan,” ujarnya. Itu dibuktikan dengan berbagai macam jenis burung koleksinya yang menghiasi pelataran museum. Mulai burung Rangkok, aneka jenis Kakak Tua, Cendrawasih dan masih banyak lagi jenis burung lainnya yang jumlahnya puluhan ekor.

Mengawali menangkar Jalak Bali, dilakoni sejak tahun 2004. Dan Mario mengakui, kala itu begitu susah mengantongi ijin penangkaran. Mario harus bolak balik mengurusi izin penangkaran ke pihak yang berwenang. Keinginannya baru terwujud dan terlaksana pada pertengahan tahun 2005.

Beberapa indukan Jalak Bali diperoleh dari Soehana Oetojo, peternak sukses Jalak Bali asal Bandung. “Dari pak Soehana, indukan Jalak Bali saya boyong ke Ubud. Dari situ pula kita saling berbagi pengalaman soal breeding jalak Bali,” ujar Mario.

Dua pasang indukan Jalak Bali tersebut yang dibiakan sejak tahun 2004, kini jumlahnya sudah mencapai ratusan ekor. Awalnya, Mario hanya mengandalkan dua blok kandang kini sudah memiliki 60 kandang.
“Dulu beberapa anakan burung Jalak Bali saya lepas di sekitar museum, burung itu begitu jinak berterbangan di sekitar museum. Karena, sering diburu kini tidak saya umbar lagi,” terangnya kecewa melihat sikap orang yang tidak peduli terhadap kelangsungan hidup Jalak Bali.

Lokasi dan bangunan kandang tak ubahnya dengan para bredeer lainnya. Menurutnya yang terpenting lingkungannya tenang, bebas dari polusi udara dan suara kegaduhan serta predator yang mengganggu kenyamanannya. Perhatikan pula sirkulasi udara dan sinar matahari serta atap kandang sebagai peneduh kandang.

Jangan sampai sengatan matahari dan cucuran hujan terlalu berlebihan masuk dalam kandang. Ukuran kandang yang ideal, panjang 2,5 meter x lebar 1,25 x tinggi 2 meter. Dalam kandang disediakan tempat makan dan minum serta bak mandi. Dan jangan lupa dipasang tangkringan dan sarang yang terbuat dari kayu untuk menaruh dan mengerami telurnya.

Indukan betina usia produktif berumur 1,2 tahun sedangkan jantan berumur 1,5 tahun. Umur tersebut ideal dalam perjodohan. Bisanya burung yang sudah berjodoh, ia akan sering bercumbu. Selang dua minggu masa perjodohan dan perkawinannya, idukan betina akan bertelur. “Jumlah telurnya antara 2 – 4 butir, yang dierami secara bergantian oleh kedua indukannya selama kurang lebih 13 – 14 hari secara bergiliran”, jelas Mario.

Berdasarkan pengalaman Mario, setelah proses bertelur dan mengeram berhasil menetas, selang 10 hari anakan Jalak Bali yang diasuh oleh indukannya segera dipanen. Dua mingu kemudian biasanya indukan akan kawin dan mengeram lagi.

Perawatan piyik dibutuhkan ketelatenan. Pemberin pakan berupa kroto, jangkrik muda dan voor ditambah air secukupnya kemudian dilumatkan hingga menyerupai bubur. Pemberian pakannya dilakukan selang satu jam.
Selanjutnya, piyikan tadi dimasukkan ke dalam incubator yang telah dipasang lampu 5 watt dengan suhu antara 25 – 30 derajat Celcius. “Dulu, untuk memacu produksi, saya menggunakan incubator penetas telur. Hasilnya cepat, cuma daya tahan tubuh anaka agak lemah rentan terhadap penyakit”, tuturnya.

Kesiruasan dan kesenangannya dalam menekuni breeding, sejurus dengan perjalanan waktu yang digeluti secara otodidak, terbukti membuahkan hasil gemilang. Namun, hasil ternakan yang jumlahnya cukup membanggakan itu, Mario belum terbersit keinginannya untuk ke arah komersial.

“Not for sale. Saya begitu mencintai berbagai jenis burung. Bentuk kecintaan saya adalah dengan mengembangbiakan sehingga kelak hasil tetasan di sini bisa membantu konservasi sehingga terhindar dari kepunahan”, papar Mario di kediamanya Campuan, Ubud Gianyar Bali mengakhiri perbincangannya. *don

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s