Pengalaman Budi Bogem Nganjuk Jawa Timur Sukses Menangkar Jalak Bali

Standar

naskah : Prayogi Waluyo
IMG_0025
Jalak Bali atau Leocopsar rothschildi tubuhnya dilindungi bulu putih bersih dengan sedikit warna hitam pada ujung sayap dan ekor. Sekitar matanya dikelilingi warna biru, tampak kontras dengan warna bulu badannya. Kepalanya dihiasi jambul yang tersusun atas beberapa helai bulu berwarna kuning muda. Pada jantan jambul tersebut berukuran lebih panjang sehingga lebih menarik. Keindahan yang mempesona inilah menggoda penggemar burung ingin memiliki.

Sejak dikeluarkan Perlindungan dan Penangkaran Jalak Bali yang diatur dalam SK Dirjen No 07 Tahun 1989, tidak gampang mendapatkan burung endemik Bali dari pasaran untuk dipelihara di rumah. Apalagi dalam UU No 5 tahun 1980 tentang Konservasi SDA yang salah satu pasalnya menyebutkan bahwa tiap orang dilarang memiliki, memelihara, dan memberdayakan satwa liar yang dilindungi oleh UU baik hidup maupun mati. Sanksi yang melanggar denda Rp 100 juta dan kurungan 5 tahun.

Namun dalam suatu sarasehan Jalak Bali di TB-TMII tahun 1998 pernah tercetus agar bagi penangkar diberi kemudahan dan ijin yang tidak berbelit-belit. Terlebih bagi perorangan atau lembaga yang memang layak secara teknis atau secara materi. Maka mulai banyak digelar diklat penangkaran Jalak Bali yang mencetak penangkar Jalak Bali secara ex-situ (penangkar di luar habitat aslinya) yang mumpuni secara teknis maupun materi.

Budiono Irwanto adalah salah satu penangkar secara ex-situ. Memanfaatkan lahan halaman belakang rumahnya di jalan Panglima Sudirman 185 Nganjuk, pria kelahiran tahun 1968 mulai menangkar sepasang Jalak Bali siap produksi yang dibeli Rp 90 juta komplit beserta sertifikat di tempat ia mengikuti diklat penangkaran Jalak Jali di Solo. Tempo 18 bulan sudah mengeluarkan anakan 4 pasang. “ Sekarang anak pertama sudah produksi,” ujar Budi Bogem panggilan akrab di komunitas pelomba.

Memulai Menangkar
Dari halaman belakang yang luas, Budi hanya memanfaatkan area 6 x 4 m2 untuk membangun 4 kandang. Masing –masing ukuran 2 x 1 ½ x 3 ½ m2. Atapnya di cor sedangkan bagian tengah diberi glass blok ukuran 20 x 20 yang banyak dijual di tokoh bahan bangunan. Fungsinya sebagai pencahayaan dari atas agar bisa masuk. Dinding dalam bagian belakang di-relief batu sehingga terkesan alami. Sedangkan dinding pembatas antar kandang terbuat dari batu bata.

Kawat ram diameter 2 cm menutup bagian depan, sekaligus dibuat pintu ukuran 40 x 70 cm pada bagian kiri bawah. Sedangkan lantai di cor untuk menghindari tikus masuk. Selanjutnya di timbun pasir laut dengan ketebalan 15 cm. juga dibuatkan lubang saluran air yang keluar ke depan sehingga lantai kandang tidak lembab. Sedangkan halaman depan kandang pada bagian atas ditutup ram diameter 2 cm agar kalau burung keluar lepas dari kandang tidak langsung terbang bebas.

Dalam kandang disediakan juga ranting berdaun untuk bertengger burung dan kotak kayu ukuran 20 x 30 cm serta bowokan dan sarang telur khusus Jalak yang diletakan di pojok atas berseberang dengan kotak kayu. Bak mandi almunium dengan ukuran 5 x 30 x 40 cm diletakan di pojok belakang.

Sedangkan 3 tempat minum dan pakan diletakan menempel di ram kawat depan dekat pintu kecil khusus untuk memasukan pakan dan minum. Lebar pintu ukurannya cukup sebatas bisa memasukan tangan. Setelah kandang siap huni maka sepasang yang siap produksi dimasukan. “ Air minum dalam sehari diganti 2 kali sekaligus membersihkan kotorannya. Sedangkan lantainya dibersihkan 1 bulan sekali dari daun dan kulit pisang.

Untuk perawatan dan menu pakan sehari-hari terhadap 4 pasang jalak bali, Budi harus menyediakan setiap hari 80 ekor jangkrik, 8 pisang kepok dan ¼ papaya. Ulat hongkong 5 sendok makan dan ½ ons kroto. Untuk voer diisi full 3 tempat pakan tersebut. Sedangkan air minum diganti dalam sehari 2 kali. Menu tersebut bertambah variasinya ketika masuk pada masa produksi atau bertelor.

Menurut Budi menu untuk sepasang yang sudah jodoh dan masuk masa produksi ditambah cacing 10 – 15 ekor. Sebulan sekali jangkrik 20 ekor disuntik vitamin khusus breeding. Sedangkan ulat hongkong, kroto dan papaya porsinya sama dengan ketika masih belum produksi.

Lalu bagaimana cara dan mengetahui kalau sudah jodoh ? Yang perlu diperhatikan jangan biasa memindah-mindah burung yang sebelumnya sudah kumpul bersama. Pasalnya akan sulit adaptasi lagi. Kalau menbedahkan jantan – betina, kata Budi jantan postur tubuhnya lebih besar.

“ Biasanya kalau sudah umur 6 bulan burung tersebut akan mencari jodoh. Maka biarkan mereka mencari pasanganya sendiri yang ada dalam satu kandang. Dalam tempo 30 hari sudah ketemu pasangan yang cocok, selanjutnya dipindah ke kandang lain. Sekitar 2 bulan burung tersebut sudah bertelur,” jelas Budi yang popular pemilik punglor merah Raja Ngeyel yang kerap juara I.

Berdasarkan pengalaman Budi telur yang keluar antara 2 hingga 4 butir. Namun belum tentu semua bisa dipakai. Paling sering 2 butir saja. Kegagalan ini menurutnya kemungkinan faktor cuaca yang panas. Maka solusinya dilakukan penyiraman pada atap. Caranya bisa menggunakan sprinkle atau di dalam maupun sekitar kandang diberi tanaman peneduh..

Telur akan menetas sekitar 2 minggu lalu biarkan selama 10 hari selanjutnya bisa dipasang ring. Setelah itu, masukan ke dalam incubator yang telah terpasang lampu 5 watt dengan suhu diatur antara 25-30 derajat Celsius. “ Cara seperti itu, menghindari kematian dini terjadi pada piyik,” ujar Budi.

Setiap 4 hari sekali selama kurang lebih 1 bulan anakan disuapi adonan voer, vitamin C, minyak ikan, kalsium dan ½ sendok kroto segar. Juga 4 ekor cacing dengan cara dilolohkan. “Memasuki 3 bulanan biasanya anakan tersebut sudah bisa makan sendiri,” ujar Budi yang menjual anakan umur 1-3 bulan seharga Rp 12,5 juta dan Rp 35 juta siap produksi sudah komplit dengan sertifikatnya. Menurutnya harga yang ia patok tergolong murah. Pasalnya, di pasaran tidak mudah untuk mendapatkan Jalak Bali bersertifikat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s