Perawatan Cendet di Daerah Minim Panas

Standar

naskah : Prayogi Waluyo
IMG_2118
Zainul sempat kesulitan memenuhi menu pakan Singo Edan, nama baru Permadi. “ Yang merawat ketika masih di Malang adalah saya, sehingga tahu apa menu pakannya. Di Bogor sangat sulit bahkan bisa dibilang tidak ada pedagang pakan burung yang jual ulat kandang,” ujar pria berambut gondrong yang sempat mengenyam ilmu teater di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Lantas sebagai penggantinya, pria kelahiran tahun 1970 ini memberi kroto segar setengah sendok makan setiap harinya. Hal ini dimaksud untuk menjaga stamina tetap dalam kondisi bugar. Cuaca di Bogor intensitas sinar matahari lebih minim bahkan cenderung mendung katimbang Jawa Timur.

Jawa Timur merupakan pabrik cendet. Cukup banyak produk cendet yang dihasilkan dari tangan dingin perawat dan pemandu burung asal Jawa Timur moncer di pelbagai kontes yang dihelat di negeri ini. Tak sebatas itu, hasil tangkapan hutan pun telah memasok kebutuhan di berbagai pasar burung di Jawa Tengah maupun Jawa Barat khususnya Jakarta.

Cendet asal Jawa Timur, khususnya Madura, diakui sangat handal. Terbukti sederetan nama – nama yang kerap memenangkan kejuaraan merupakan cendet yang semula hidup di alam gersang di Pulau Garam. Sebut saja Brekele milik Harry yang tinggal di Surabaya besutan Imron selaku perawat sekaligus pemandu di arena kontes. Koleksi Jojik-Beny AP, H. Ridwan, Kelana milik H Chiut Emas Hitam Binuang Kalsel, Kopassus milik Abah Firas Pandaan, Pasuruan, Brutal milik Budi Robot Surabaya dan sederet nama – nama pasukan cendet Jawa Timur lainnya yang kerap moncer.

Bahkan, cendet yang kini banyak di koleksi kicaumania kaum borjo blok barat khususnya Jakarta merupakan cendet Jawa Timur. Maka wajar apabilah ada kesempatan bisa hadir di kontes yang di gelar di blok timur, mereka meluangkan waktu dan rela mengeluarkan kocek untuk berburu dan membeli cendet.

Satu di antaranya adalah Rusli, kicau mania yang tinggal di Bogor. Ketika ia hadir di kontes berlabel Aremania III di Malang sekitar Juni 2008, pulang memboyong Permadi, cendet koleksi Hardi Duta Barito BC Malang dalam kondisi ngurak. Zainul Syahroni mantan perawat Duta Barito BC Malang kala itu sudah tinggal di Bogor dipercaya Rusli merawat Permadi.

“ Kalau di Jawa Timur ketika menjemur cukup 2 jam. Misal mulai pukul 8.00 s.d 10.00 sedangkan di Bogor waktu penjemuran hingga pukul 12.00 itu pun terkadang cendet masih merasa perlu waktu lagi untuk berjemur. maka saya beri tambahan lagi ulat hongkong dan jangkerik. Soal porsi pemberian menu pakan ulat hongkong maupun jangkerik masing-masing cendet yang saya rawat tidak sama. Tergantung kondisi tubuh burung tersebut. Sebab, setiap burung termasuk cendet ketika membutuhkan makanan yang akan dimakan, porsinya tidak sama,” papar Zainul yang telah mempersunting gadis Bogor dan dikarunia 4 anak.

Zainul sekadar mengingatkan pada kicau mania ketika membeli burung dengan kondisi cuaca berbeda dengan habitat alamnya, diperlukan pemahaman dalam melatih adaptasi. Baik terhadap kondisi cuaca maupun menu pakan yang akan diberikan.*

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s